Tentangsinopsis.com – Sinopsis Mine Episode 6 Part 2, Jika mencari jalan kisah full pastikan baca di tulisan yang ini. Namun untuk tahu akan recap dari Episode Sebelumnya ada disini.



Jakyung pergi dengan naik mobil. Dih nyaris aja nabrak Pak Kim yang lagi sama Kyunghyee. Mereka sendiri juga nampak mencurigakan.
Dengan kecepatan tinggi Jakyung menabrak orang. Orang itu yakni dirinya sendiri. Perlahan beliau berdiri dan menghampiri nya. Jakyung nangis teringat apa yang ibu katakan. Kamu sudah mati lantaran kecelakaan. Jangan pernah timbul lagi di depan anak ini. Kami akan membesarkan anak ini. Dia merasa frustasi. Aku belum meninggal.
Ibu juga berimajinasi jelek wacana Jakyung. Kamu lindungilah anakmu. Aku akan melindungi anakku. Aku akan menolong Han Jinho menjadi direktur. Akhirnya ibu bangun.
Jakyung kembali melajukan mobilnya dengan perasaan marah.



Hiso terbangun. Ia bersandar dan meraba perutnya. Ia nelpon Seohyun. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah saya ke sana sekarang? Seohyun melarang. Nggak usah. Aku saja yang ke sana. Aku juga ingin bicara.
Keduanya duduk bersama. Hiso berterima kasih lantaran Seohyun sudah datang. Seohyun tersenyum. Nggak perlu berterima kasih. Aku mesti datang. Sudah usang saya nggak mampir ke Rubato. Hiso mrmbenarkan.
Seohyun menaruh cangkirnya dan mau bilang sesuatu namun hIso mendahuluinya. Sebenarnya, saya sedang mengandung. Kamu niscaya kaget. Aku kian percaya dengan perasaanku sekarang. Aku percaya perasaanku terhadap Hajun nggak akan berubah walau saya melahirkan. Terlebih, saya percaya akan hubunganku dengan Hajun. Selain itu, Hajun juga gampang kesepian.
Mendengar semua itu menghasilkan Seohyun ragu untuk bilang. Baiklah kalo gitu. Kamu ternyata hamil. Sambil senyum Hiso melanjutkan kalimatnya. Setelah saya masuk ke keluarga ini, saya sungguh bergantung kepadamu. Tolong bantu saya juga ke depannya.
Seohyun mengangguk mengiyakan. Baiklah. Aku akan terus membantumu. Hiso mengambil cangkirnya. Kamu tadi ingin menyampaikan sesuatu kepadaku, bukan? Seohyun menggeleng. Nggak jadi. Jaga dirimu baik-baik.

Pak Kim dan Kyunghyee menjinjing berlian itu untuk dijual. Penjualnya selesai memeriksanya. Astaga. Ternyata berlian Lazare. Ini nggak bisa dijual. Pak Kim dan Kyunghyee kaget. Apa? Kenapa nggak bisa?
Penjualnya menjelaskan; Berlian biru ini dibentuk oleh Lazare, jadi, niscaya memiliki nomor seri. Pak Kim masih nggak paham. Nomor seri? Apa maksudnya? Kyunghyee berpikir untuk menghapusnya. Bisa dihapus, bukan? Kalian bisa eksklusif ditangkap polisi bila memasarkan ini! Kata penjualnya.

Kepala Joo ternyata sudah tahu kalo Pak Kim dan Kyunghyee mencuri pelengkap itu. Mendadak ibu manggil. Ia pun secepatnya pergi ke sana. Cepat cari No-deok! Apa yang kalian laksanakan semalaman? Kalo ditangkap orang lain, beliau bisa mati lantaran asal makan!nCepat cari No-deok! Cepat cari! Cepat!
Kepala Joo nggak yummy mau bilangnya. Maafkan saya lantaran mesti menyodorkan ini…Nodeok… sudah terbang. Ibu eksklusif mengusirnya dan menyuruhnya untuk mencari Nodeok.


Seohyun tiba dan menemui ibu. Hati-hati dengan Hiso sekarang. Ibu nggak paham. Kenapa kau tiba-tiba menyampaikan itu? Seohyun memberitahu kalo Hiso sedang hamil. Dia mengandung… . Kini kita mesti menghalau Nona Kang, kan?
Ibu asal mengiyakan. Sampai sedetik kemudian beliau gres menyadari kalo beliau nggak bisa. Seohyun melanjutkan kalimatnya. Aku menyampaikan ini bukan untuk meminta izinmu. Aku akan mengurusnya. Siapa pun mesti bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Seohyun kemudian pergi setelahnya. Ibu galau mau bilang apa.
Kepala Joo meninggalkan kamar ibu sambil mengeluh. Kacau sekali. Burung merak pergi terbang, kalung berlian dicuri orang, Bu Seo mengandung.

Jinhee ada di dokter. Para perawat megangin beliau yang akan disuntik. Bertahanlah, Bu Han. Kamu akan menjadi lebih bagus dan menjadi muda. Dan dikala jarum suntiknya menembus pipinya, ia berteriak kesakitan.



Jinhee duduk bareng Jinkyung sehabis selesai. Ia memesan teh susu juga. Jinkyung menasehati nya; nggak baik berlebihan. Kamu semestinya tahu batas. Jinhee santai. Selain transplantasi sel indukku, bisakah mereka menyuntikkan sel induk perempuan yang lebih muda?
Jinkyung menampilkan kalo itulah masalahmu sejak masih kecil. Ketamakanmu. Jinhee menampilkan kalo bibi lebih tamak dari dirinya. Tumben memanggilku begitu. Sindir Jinkyung. Lantas mesti memanggilmu apa? Tanya Jinhee.
“Hiduplah mendampingi suamimu saja.”
Jinhee mengaku juga ingin menyerupai itu, namun beliau minta bercerai. Makanya perlakukan beliau dengan baik, usulan Jinkyung. Dia sudah tahu kalo kau punya dilema mental dikala menikahimu. Kamu sudah terkenal sebelumnya. Terkenal selaku perempuan gila. Dia mungkin berpikir bisa bertahan, namun sayangnya, kau sudah melalui batas. Omong-omong, dewasa ini Jinho nggak ada kabar.
Mendadak ada kericuhan di sana. Kaprikornus pacarnya Jinho melabrak gadis pramusaji yang menawan hati Jinho. Jinhee sama Jinkyung merasa kalo itu sungguh memalukan. Selingkuhan pertama sedang melabrak selingkuhan kedua? Padahal istrinya nggak peduli. Ini betul-betul dilema besar.

Pak Kim dan Kyunghyee duduk di depan toko. Putus asa. Kepala Joo nelpon. Kalo kau nggak kembali dalam waktu 24 jam, saya akan lapor polisi. Ambilkan juga kecap dari rumah Direktur Yoon di Palseong. Aku berkata kalian berdua sedang kiprah luar.
Pak Kim mengiyakan. Kyunghyee merasa pesimis. Kita niscaya menjadi budak Kepala Joo. Aku nggak bisa hidup begini lagi. Mari kabur ke Guatemala. Banyak makanan yummy di sana. Pak Kim nggak mau. Kita bisa tertangkap Interpol.
Kita bisa naik kapal gelap. Kata Kyunghyee. Pak Kim tetap nggak bisa. Aku gampang mual di saat naik kapal. Tidak. Selain itu, saya berupaya keras untuk kabur dengan cara yang legal. Kyunghyee jadi sesal. Cara yang legal? mual di saat naik kapal? Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa dengan mencuri berlian? Untuk dikala ini, kita sebaiknya kembali, bukan?



Suster Emma sedang menyeduh teh. Seohyun datang. Maaf saya tiba tanpa pemberitahuan. Apa kau punya waktu sekarang? Suster Emma mengiyakan dan mempersilakannya untuk duduk.
Ada apa? Silakan bicara. Kata suster Emma sehabis menyuguhkan tehnya. Seohyun menghela nafas sebelum hasilnya memulainya. Aku mengenali suatu kebenaran wacana seseorang. Kalo orang itu tahu kebenarannya beliau akan mengalami kesakitan yang luar biasa. Tapi dikala ini beliau nggak bisa mengalami hal tersebut lantaran suasana yang beliau hadapi. Bila saya menutup mulutku, kedamaian pasti akan tetap terjaga. Namun, di saat beliau mengenali kebenarannya nanti, rasa sakitnya akan bertambah dua kali, bahkan sepuluh kali lipat. Orang yang Seohyun maksud yakni Hiso, yang kini sedang yoga. Haruskah aku…memberitahunya?
Suster Emma mengambil penyaring teh. Kalo kau berada di posisinya, kebenaran pahit dan kedamaian palsu, yang manakah yang kau akan pilih?
Hiso mengelus perutnya.


Suhyuk menghampiri Yuyeon yang sedang membersihkan pegangan tangga. Yuyeon bangkit. Keduanya saling nrnatap sambil tersenyum. Dih, gini doang rasamya dah manis banget.
Lah bapaknya pulang😅. Dia heran lihat anaknya senyum-senyum sama pembantu. Sampai hasilnya keduanya menyadarinya. Suhyuk pergi dari sana dan Yuyeon kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ibu menyaksikan Jinho. Apa kau gres saja kembali? Atau kau gres mau pergi? Apa pun itu, kemarilah sebentar. Aku ingin bicara.
Keduanya duduk di kamarnya ibu. Ibu mengeluhkan Hiso. Padahal beliau bilang akan membesarkan Hajun dan nggak akan melahirkan anak lain dari perutnya. Kenapa beliau tiba-tiba mengandung?
Jinho merasa kalo itu bagus. Pantas Ji Young hari ini terlihat sungguh senang. Ibu memberitahu kalo masalahnya kian rumit. Jinho nggak paham. Apanya yang rumit?
Kamu tahu perempuan yang melahirkan Hajun, kan? Jinho mengaku nggak pernah menyaksikan wajahnya, namun ia tahu. Dia instruktur berkuda Ji-yong. Ibu memberitahu kalo perempuan itu masih hidup. Jinho kaget. Bukankah beliau meninggal lantaran kecelakaan?
Ibu membantah Dia masih hidup. Di manakah perempuan itu sekarang? Tanya Jinho.
Di rumah kita. Dia yakni guru les Hajun. Itulah syarat yang diberikan Ji Young untuk membuatmu menjadi direktur. Aku nggak boleh memberitahu identitas ibu kandung Hajun terhadap Hiso.
Jinho merasa nggak habis pikir sama ibu. Kenapa ibu mengabarkan maut perempuan yang masih hidup?
Jinho meninggalkan kamar ibu. Syok.

Kepala Joo menyambut Pak Kim dan Kyunghyee dan menanyakan kecapnya sambil menampilkan video dikala mereka mencuri berlian itu. Keduanya eksklusif lemas.


Suhyuk tiba ke kamar Yuyeon lagi dan mengetik pintunya. Aku datang…hanya lantaran merindukanmu. Aku bisa tidur nyenyak sekarang. Yuyeon tersenyum. Aku juga kelihatannya bisa tidur sekarang. Mimpi yang indah. Ia kemudian menutup pintunya kembali. Keduanya sama-sama bersandar di pintu dengan senyum di bibir masing-masing.

Seohyun yang akan pergi menyaksikan Jakyung mengirim Hajun hingga mobil. Setelah selesai, Jakyung jalan melewatinya gitu aja.
Saat di perjalanan, sopir Seohyun bertujuan mengantarnya ke museum namun Seohyun secara tiba-tiba mengubah tujuannya.



Seohyun tiba ke kantor Ji Young. Aku sudah tanya sekretaris dan menegaskan kau sendirian. Kata Seohyun. Ji Young menghampirinya. Kenapa kau kemari tanpa pemberitahuan? Keduanya duduk bersama. Ada yang ingin kubicarakan. Kang Jakyung. Bukan. Maksudku, Lee Hyejin. Kenapa kau membiarkan beliau masuk? Perjanjian apa yang kau buat dengan Ibu hingga masalahnya bisa ditutupi dengan baik? Apa yang kau persiapkan sehabis menghasilkan dilema yang nggak pernah dibayangkan siapa pun?
Ji Young tersenyum sambil mengangguk. Kamu sudah tahu rupanya. Aku mesti keluarkan dia. Hiso sedang mengandung. Aku mesti melindungi perempuan yang mengandung anakku.
Seohyun meragukannya. Apa kau ingin melindungi Hiso atau dirimu sendiri? Kalo Hiso nggak mengandung, apakah kau bermaksud terus menutupi dan menipu kami? Kamu mesti memberitahu Hiso wacana semuanya, kemudian biarkan beliau memutuskan sendiri. Sebelum terlambat.



Seohyun berdiri dan bertujuan pergi. Ji Young secara tiba-tiba menahannya. Kupikir kau akan lebih mengerti keputusanku dibandingkan orang lain. Ada banyak bentuk cinta di dunia ini. Ada juga bentuk cinta yang nggak bisa dimengerti orang lain. Kamu tahu, bukan? Aku ingin membiarkan beliau menjadi guru les Hajun saja. Namun, semua planning yang kubuat terus berubah menurut perasaan dan suasana orang-orang yang terlibat. Astaga. Aku sungguh tidak senang itu. Masalah pun terjadi. Karena perempuan itu tamak.
Ji Young berdiri dan membenarkan. Aku berimajinasi menjadi pewaris Grup Hyowon. Nggak ada orang di keluarga ini yang dapat memimpin perusahaan. Nggak ada seorang pun. Namun, siapa yang kira-kira terus mengusik pikiranku?
Apa lantaran itu kau menggunakan kelemahanku?
Ji Young membantah. Aku nggak bertujuan menyerupai itu. Aku cuma ingin tahu apa yang keluargamu pertimbangkan wacana ini. Aku ingin tahu. Kita kelihatannya menjadi lebih erat lantaran sudah meningkatkan diam-diam yang serupa besarnya.


Soyoung mengunjungi Hiso yang sedang yoga. Perwakilan tim humas dan tim legal sudah menunggumu. Hiso mengiyakan dan bilang akan secepatnya ke sana.
Hiso menemui orang yang dimaksud. Mereka menampilkan informasi wartawan Im Seongsu dari info hiburan Shinilgan. Dia wartawan purnawaktu di Shinilgan dan kinerjanya dinilai cukup baik di bidang ini. Dia sedang ditinjau oleh komite etik sesuai permintaanmu mengenai dilema pada metodenya.
Sudah dapatkan sumbernya? Tanya Hiso.
Mereka tetap bersembunyi di balik sumbangan sumber berita. Mari olok-olokan tuntutan mudah-mudahan bisa mengorek semuanya.
Hiso mengaku pernah mengalami bencana serupa dikala masih menjadi aktris. Ia nggak mau masalahnya kian besar. Bukan memiliki arti saya mau membiarkannya. Karena Hajun dilibatkan, saya ingin betul-betul menegaskan bahwa bencana serupa nggak akan terulang lagi. Praktis saja menghasilkan para wartawan bicara.
Tim humas mengiyakan dan minta diberi waktu lagi.



Ji Young berdiri di erat jendela kantornya. Rupanya dahulu ia pernah mendengar obrolan ayah dengan Seohyun. Aku akan memperhatikan caramu menumbuhkan budaya bisnismu sendiri. Kamu pun niscaya akan menjadi salah satu kartuku nanti. Kartu untuk memimpin Hyowon.
Dan dikala Ji Young mau pergi ia menyaksikan kepala Joo memotret menggunakan ponselnya.

Seohyun pulang. Ia merasa nggak tenang dengan apa yang Ji Young katakan padanya. Aku tahu alasanmu mau menikahi Jinho. Aku juga tahu alasanmu nggak akan menikah lagi walau bercerai nanti. Aku juga tahu bahwa kau sanggup menikah lagi, namun pasanganmu bukan seorang pria. Kamu yakni minoritas yang memiliki fikiran buruk. Ada salahnya itu? Aku mendukungmu, tapi… masalahnya kau menipu seluruh dunia dengan nggak tahu malu. Karena itulah kita berdua memiliki kesalahan yang nyaris sama. Bukankah lebih baik bagi kita untuk tidak saling menyerang? Bagaimana pendapatmu? Seohyun?
Bersambung…